mantra malam pegasus
Filed Under (my pink paper) by jingga on 09-06-2008
Tagged Under : cinta, jingga, patah hati, pegasus, pijar, puisi, puitis, saint seiya, surat
Semalam……..
kubuka kembali lemari kayu tua di ujung kamarku.
Kuambil segulung kertas usang didalamnya,
kubuka gulungannya,
sebuah peta terbentang di kertasnya yang sekarang tak lagi wangi,
peta tentang aku dan kamu yang kugambar entah berapa waktu yang lalu,
ada noktah hitam dipinggir peta itu,
sebuah noktah yang mulanya hanya sebuah titik kecil ,
entah sudah berapa kali aku menimpali titik itu,
masih dan masih tetap di titik itu,
terus dan terus hingga dia menjadi noktah hitam pekat.
titik sebuah perjalanan, yang bahkan belum aku mulai.
Semalam…..
kulihat jejak-jejak langkah berwarna merah,
jejak langkahmu yang telah begitu jauuh menapaki konstelasi peta itu,
kau telah melangkah begitu cepat,
terlampau cepat seakan tak menapaki tanah,
entah kenapa demikian aku sendiri tak tahu,
mungkin di waktu terdahulu,
di malam-malam rahasia,
kau diam-diam telah merapal mantra-mantra sakti Saint Seiya,
mendapatkan sayap-sayap pegasusnya,
dan dengan sayap-sayap itu kau terbang,
melesat dengan cepattt !!!
Sedangkan aku…
aku masih disini,
berdiri di atas kaki yang mulai dekil diliputi debu,
yang mulai terasa letih oleh waktu, perjalanan dan harapan.
Para pujangga berkata,
orang yang jatuh cinta ibarat penggembala bintang-bintang,
Dan malam ini kesekian kalinya aku bertanya
“jika kita menyembah Tuhan yang sama,
mengapa begitu sulit kita bersama ?”
Beberapa pesan singkat yang datar kau balas,
beberapa telepon yang hambar kau jawab,
Semalam…..
telah kutetapkan langkahku,
aku akan tetap di sini,
aku tak akan mengejarmu lagi,
aku hanya akan duduk di sini,
menyanyikan lagu-lagu cinta dan rindu,
satu saat kelak, bila kau lelah dengan perjalananmu,
kau bisa beristirahat di sini,
untuk sekedar duduk,
atau menyanyikan lagu sendu,
satu saat nanti, bila kau lupa irama dan syairnya,
aku akan menyanyikan bait-bait lagunya untukmu,
Semalam,
kugulung kembali peta usangku,
kuletakkan petaku ke dalam lemari kayu di ujung kamarku.
(pic by johnhorrigan ; kata2 bercetak miring diambil dari novel karya Anif Sirsaeba berjudul “dibawah naungan cinta”)
Viewed 592 times by 157 viewers








jadi inget saint saiya… seperti pegasus… hihihi..
salam kenal
wah ngebacanya seperti digendam
, puisi yang bagus. bener2 berbakat mbakyu satu ini, makan2 donk
waduh gak ngerti artinya tuh
sini sini jeng….
**nyiapin bahu**
Been there (still there I guess) but I’m not that good with words so I hope *a big huge hugz* could help dear ^^
wah ada pujangga to disini… angkatan berapa Mbak?
inget cover bukunya tujuh musim setahunnya clara ng dan sedih sekali karena ilang
punya ga bu? saya beli boleh?
kyk nya ini puisi bwat pijar lg deh
*kabuuurr
Aku mah pingin naik kuda pegasus nya, ada gak ya, hehehehe
salam
Mungkin pershabatan memang lebih baik dari cintaa :)*nyambung ga Ngga*
wedeww…
jinggabell
bikin kan satu buat ku donk!!!
*aku juga tak akan mengejarmu*
betull jingga!! santai aja….capek..pek…cepek
biarkan segalanya mengalir seperti air
suatu hari kau kan bisa melihat siapa diriku sebenarnya
saat kau buka pintu hatimu dan melihat starlight di mataku
Peacee!!!
Let it flow, babeh…
*pijit2 jingga, sambil mikir puisi ituh berulang kali*
haduh, panjang banget puisinya.. itu puisi apa prosa yah?