Mengejar layang2 putus (1)

May 16, 2008 by jingga · 6 Comments
Filed under: personal 

layang-layang

Minggu sore…wuaa…lumayan libur kerja, Alhamdulillah bisa santai di rumah :).

Sore itu aku lagi tenguk-tenguk ( duduk-duduk santai) di teras, ngobrol-ngobrol sama mama. Nggak cuman berdua ding, aku sama mama ditemeni juga sama Si Manis yang nggak mau ketinggalan ikutan nimbrung ( kali sambil jual tampang, siapa tau ada kucing betina lewat, kan bisa dikecengin :D )

Lagi tengah-tengahnya ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba segerombolan anak-anak berlarian, bercoetan gaduh , telunjuk-telunjuknya nuding (menunjuk) ke atas, mata melotot-lotot, wajahnya kileng-kileng kena panas, dan BURRRRR……. lari lagi …

Duinngg !!! spontan aku melongok ke atas juga, lihat ke langit.

Ternyata oh ternyata…layangan-layangan berkibar-kibar.

Dulu waktu aku masih SD, aku dan teman-teman sebaya di kampung selalu mengidentikkan musim liburan sekolah dengan musim mainan layangan (bermain layang-layang).

Dan sepertinya identifikasi ala anak SD ini juga diamini secara (lumayan) massal, buktinya momentum seperti ini dijabani dengan menjamurnya para pembuat layangan musiman.

Aku masih ingat untuk satu layangan sederhana berbentuk belah ketupat dari bahan kertas minyak dengan ragangan (rangka) bambu yang diserut-serut, dijual dengan harga ‘hanya’ duaratus rupiah.

Dengan uang saku sehari yang rata-rata duaribu rupiah, harga layangan terasa ‘murah’ waktu itu.

Padahal dalam sehari bisa membeli layangan satu biji, itu sudah hal yang bagus.
Seringnya sih layangan putus dan sobek bisa sampai tiga biji.
Belum lagi kalo ternyata sudah terlanjur beli layangan, ternyata nggak bisa mumbul, alias nyungsep terus .

Orang-orang dewasa waktu itu bilang desainnya kurang atau enggak aerodinamik ( halah…yang denger waktu itu cuman bengong, aerodinamik ? boso opo kuwi ? ) , gamblangnya mungkin pembuatnya menyancang ragangannya (mengikat rangkanya) kurang pass.
Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu ke tengah, atau mungkin juga karena kertasnya terlalu berat, lipatan pinggirnya renggang, atau terlalu lebar (ooo….kalo yang ini ‘agak’ ngeh )

Ini pula yang menyebabkan tabungan sisa uang saku harian jadi ludes dengan cepatnya. Tapi bagi aku dan teman-teman waktu itu, semua hal itu rasanya worthed saja dilakukan, dengan imbalan kesenangan dan kepuasan yang didapatkan.

Yang tidak terlupakan adalah ketika mengejar layangan yang putus.
Di tempatku tinggal dulu, layangan putus dinamakan ‘layangan gimbul’ .

Dulu begitu melihat layangan gimbul, sontak tanpa dikomando, aku dan teman-teman langsung ramai-ramai nguber (mengejar) layangan gimbul.

Dengan semangat tinggi dan antusias ( atau bisa dibilang ngotot) berlarian kesana kemari, memfokuskan pandangan ke layangannya, memprediksi kemana layangan itu bakal jatuh.
Kadang kalo layangannya jatuh di genteng, sampai harus naik-naik pagar rumah orang (sampai pemilik rumah marah-marah :D ) , bahkan kadang sampai harus panjat-panjat pohon mangga bila kebetulan layangannya nyangsang di salah satu cabangnya.

Tapi kalau ……..

( pic : gettyimages )

bersambung

Related Post


Comments

6 Responses to “Mengejar layang2 putus (1)”
  1. elmo says:

    belon pernah ngejar layang-layang :mrgreen:

    “sukanya ngejar2 bajaj ya Mo ? :D”

  2. xero says:

    huehehehe emang seru liat layangan “te’bal” spt lihat uang jatuh dari langit, bukan nilainya yg sama, tapi kesenangan bakat dapat barang gratis jatuh dari langit yg luas dan indah! *berlebihan :D

    xero sering2 dongak ke langit, siapa tau ntar tiba2 dapat durian jatoh *dunia hayal*

  3. angie says:

    wah layangan ya…
    masa2 cemonk (mengutip ungkapan diansastro)
    huehuehue :D aq inget pernah naik ke genting atap rumah lalu dg sukses nyangkut disono ga bs turun, tp puas dpt layangan :D hahaha…

    trus ditemenin sama meong ya ? pantes angie gemess buwanget tiap kali liat kucing, ternyata pernah romancing sama makhluk itu to…*manggut2*

  4. tipis says:

    pengalaman ngejar layangan sampek kehutan. tuh layangan nyangkut dipohon, aturannya kl belum sampai kepegang brarti blon dapet. ada teman yg nekat manjat tuh pohon, krn pohonnya lumayan lebat, sampai gk kelihatan dia. gk lama dia loncat dari atas pohon kemudian lari pontang panting sambil teriak “TAWOOOONNNNN!!!!!!!!!!!”, sejurus kemudian terdengar suara menderu dan kita semua kabur. ternyata ada sarang tawon dipohon itu :D

    wiiii…..syeremmm…..kalee tawonnya nggak mo bagi-bagi layangannya sama tipis, maunya dipake mainan sendiri, jadi gk usah capek2 kepak2 sayap buat terbang *plakkkkk*

  5. ansella says:

    Maen layangan sih doyan, ngadunya juga doyan, tapi ngejer layangan….ogah…abis jaman dulu masih kebagian yang nopego doang sih….drpd diomelin semaleman klo ketauan ngejer layangan mending beli yang baru kekekeke

    hmmm….such a sweet gal :)

  6. bloGEsam says:

    Setuju buat yang mendukung layang hasil dari “rebutan” lebih brharga daripada layangan hasil beli. ada kebanggaan tersendiri… bahkan ngejar layangan yang jauhnya sampe 500 - 1000 meter pun pernah :)

    wingg !!! yang liat bingung, kirain ada lomba marathon lokal

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!


  • Blog Archive



  • I heart FeedBurner Entertainment Blogs - Blog Catalog Blog Directory Subscribe with Bloglines Join My Community at MyBloglog! Add to Technorati Favorites TopOfBlogs blogarama - the blog directory blog search directory
    eXTReMe Tracker
  • visitors


  • Travel · Weight loss · Girl · Insurance · Car