Pohon, Daun dan Angin (2)
DAUN
Yah, akulah DAUN, kenapa DAUN ?
karena DAUN membutuhkan keberanian yang besar untuk meninggalkan POHON.
Tiga tahun ini aku sudah mengenalnya, dan setiap hari perasaanku semakin dalam kuberikan untuk POHON . Hingga akhirnya aku sadar, aku telah memberikan hatiku untuknya.
Ketika dia mulai menunjukan perhatiannya pada yang lain, aku mempelajari sebuah rasa baru…..CEMBURU..
Kalau harus aku deskripsikan, rasa ini tidaklah sama dengan strawberi.
Rasanya seperti seribu strawberi busukkk….
mataku sering dengan mudahnya basah oleh tindakannya.
Pernah satu kali dia membentakku hanya karena aku berseberangan dengan pacarnya yang entah keberapa. Aku kaget sekali, rasanya dia bukanlah dia yang kukenal selama ini.
Esok harinya dia selalu kembali menghiburku.
Bagiku itu rasanya seperti permintaan maaf darinya.
Dan akupun tidak lagi mempermasalahkan apa yang pernah terjadi diantara aku dan dia.
Aku suka sekali melihat senja, rupanya dia tau itu.
Pernah satu hari dia bertanya kenapa aku suka senja,
aku jawab “mungkin satu saat nanti kita bisa melihat senja bersama, dan aku akan memberitaukan padamu mengapa aku menyukai senja”
Diapun mengangguk, hatiku rasanya gembira sekali saat itu.
Ada temanku yang lain, sebut saja ANGIN, yang aku tau dia menyukaiku.
Setiap hari rasanya aku tidak pernah kehilangan perhatian darinya.
Berkali kali dia meminta hatiku, namun setiap saat itu pula aku katakan bahwa hatiku telah ditawan oleh POHON. Dan aku belum bisa mengalihkan rasa ini.
Tapi dia dengan sabar tetap menghampiriku.
Berusaha menghiburku dengan banyak cerita-cerita buah perjalanannya,
kadang cerita-cerita itu lucu dan sederhana,
mulai cerita tentang anak kecil yang tercebur cebur ke lumpur hanya untuk berusaha membantu ayahnya menanam benih2 padi di sawah.
Atau cerita tentang burung kecil yang berulang kali harus jatuh,
untuk akhirnya dia berhasil terbang dan menjadi elang perkasa yang gagah dan kuat.
Well, dia berhasil membuat aku tersenyum.
Tapi entah kenapa aku masih juga belum bisa memalingkan hatiku dari POHON.
Diapun tau itu, dan dia tetap menungguku dan menghiburku dengan desir2 anginnya.
Akhirnya saat itu pun tiba, aku dan POHON menghabiskan akhir siang itu melihat senja bersama sama. Banyak cerita yang mengalir begitu saja kala itu.
Kadang kita menertawakan hal-hal yang terjadi diantara kita sendiri.
Kadang kurasa dia lebih banyak diam. Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.
Kalian tau ? saat itu aku berharap semoga aku yang ada dipikirannya.
Aku merasa walau sedikit, ada ruang dihatinya yang dia isi dengan aku didalamnya.
Tapi entah kenapa setelah sekian lama tidak juga dia berkata apa-apa.
Apakah karena aku terlalu biasa-biasa saja sehingga dia merasa aku tidak serasi untuknya ? .
Begitulah hingga akhirnya senja benar-benar datang.
Saat itu pula dia berkata sesuatu yang rasanya hampir-hampir seperti janji untuk bersama-sama lagi menyaksikan senja. Bukan main senangnya aku .
Sebelum berpisah, aku sempat bertanya
“DAUN pergi karena tertiup ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?”
Agak lama dia akhirnya menjawab
“POHON tidak akan meminta DAUN untuk tinggal, karena DAUN pasti tau apa yang terbaik dia rasakan”.
Hatiku serasa hambar mendengar jawabannya. Tapi buru-buru aku bisa menguasai diriku.
“Kenapa?” dia balik bertanya. Atau mungkinkah dia tau kalo aku kecewa?
Kekasihku, tidak adakah sama sekali rasa ingin membawaku? Ataukah aku ini benar-benar kau nilai tak layak untuk dirimu ?
Bila demikian adanya, mungkin inilah saatnya aku menengadahkan kepalaku pada ANGIN, membiarkan ANGIN membawaku.
Biarlah ANGIN meniup DAUN yang lusuh, jauh.
Biarlah ANGIN yang akan selalu membuai DAUN dengan alirannya,
yang akan membawa embun di pagi hari, dan mungkin membawanya terbang jauh menuju bulan dan bintang.
Mungkinkah ?? sedangkan kekasihku yang aku harap bisa menjawabnya, tiada pernah berkata apapun.
note : ± empat tahun yang lalu seorang teman memberikan hardcopy cerita ini ke aku, aku nggak tau siapa penulis aslinya (thx to the original writer) dan aku suwwkaa banget dengan cerita ini, dengan penokohan2nya. Cerita ini mengalami modifikasi di sana-sini , tapi esensi tokoh2nya tetap sama. ( pic courtesy : i-stockphoto.com )








